Dosa-dosa pokok (= capital sins) adalah sumber segala dosa lainnya. Kata `capital' berasal dari kata Latin `caput' yang berarti `kepala'. St Thomas Aquinas lebih suka menekankan kata “kebiasaan buruk” daripada “dosa”. Ia mengatakan, “Suatu kebiasaan buruk pokok adalah suatu kebiasaan buruk yang membangkitkan hasrat yang terlampau berlebihan sehingga demi memenuhi hasrat tersebut, orang akhirnya melakukan banyak dosa, yang dapat dikatakan kesemuanya berasal dari kebiasaan buruk yang satu itu sebagai sumber utamanya” (Summa Theologiae, II-II, 153, 4).
St Thomas menekankan disposisi atau kebiasaan yang membuat orang cenderung untuk berbuat dosa. Sebab itu, dosa-dosa pokok atau kebiasaan-kebiasaan buruk pokok adalah sungguh “pokok” dan serius sebab merupakan sumber dari dosa-dosa aktual tertentu, entah dosa berat ataupun dosa ringan; pada gilirannya, pengulangan dosa-dosa aktual, khususnya dosa-dosa berat, menghantar pada kerusakan rohani orang yang hidupnya dikuasai oleh kebiasaan buruk ini. ketujuh dosa-dosa pokok (7 DEADLY SINS) itu ialah:
St Thomas menekankan disposisi atau kebiasaan yang membuat orang cenderung untuk berbuat dosa. Sebab itu, dosa-dosa pokok atau kebiasaan-kebiasaan buruk pokok adalah sungguh “pokok” dan serius sebab merupakan sumber dari dosa-dosa aktual tertentu, entah dosa berat ataupun dosa ringan; pada gilirannya, pengulangan dosa-dosa aktual, khususnya dosa-dosa berat, menghantar pada kerusakan rohani orang yang hidupnya dikuasai oleh kebiasaan buruk ini. ketujuh dosa-dosa pokok (7 DEADLY SINS) itu ialah:
1. Kesombongan (superbia)

Lucifer (pride)
KESOMBONGAN adalah “hasrat yang berlebihan untuk menonjolkan keunggulan diri sendiri.” Kesombongan disebut “penuh” apabila orang begitu dikuasai olehnya hingga ia menolak untuk menundukkan akal budi dan kehendaknya pada Tuhan, serta taat pada perintah-perintah-Nya. Orang yang demikian menolak Tuhan dan mereka yang mewakili-Nya.
2. Ketamakan (avaritia)

Mammon (Greed)
KETAMAKAN “adalah cinta yang berlebihan akan harta milik atau kekayaan.” Seorang, terdorong oleh keserakahan, sibuk mendapatkan dan mendapatkan terlebih banyak lagi harta kekayaan. Seorang yang tamak terikat bergitu rupa pada kekayaan dan harta milik sehingga pengumpulan dan penimbunan harta kekayaan menjadi tujuan utama hidup dan mendapatkan prioritas di atas orang maupun segala hal lainnya. Ada beberapa bentuk ketamakan: Sebagai contoh, sebagian orang tamak akan barang-barang materi, selalu ingin mendapatkan lebih banyak dan hanya memberikan kelebihannya, “sedikit tip”, sesuatu yang tak akan merugikan. Sebagian orang tamak akan waktu, hanya melakukan apa yang dengan suatu cara tertentu mendatangkan keuntungan bagi mereka. Sebagian orang tamak akan relasi, berteman demi status atau mempergunakan orang demi keuntungan diri sendiri. Orang dapat dengan mudah menjadi keras hati dan buta terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka yang kurang beruntung. Dipicu ketamakan, orang merasa dapat mencukupi diri sendiri, berpuas diri dan tidak membutuhkan Tuhan.3. Hawa Nafsu (luxuria)

Asmodeus (Lust)
HAWA NAFSU adalah “hasrat yang berlebihan akan kenikmatan seksual.” Dikuasai hawa nafsu, orang secara egois mencari cara untuk memuaskan hasrat seksualnya. Ia mencari kenikmatan pribadi yang sekejap. Ia memandang orang lain lebih sebagai tubuh belaka daripada sebagai pribadi. Pada akhirnya, hawa nafsu menghantar orang pada pemujaan kenikmatan seksual.
4. Iri hati (invidia)
Leviathan (Envy)
IRI HATI adalah “kesedihan atas hal-hal baik yang dinikmati orang lain, yang dianggap membahayakan diri sendiri oleh sebab hal-hal baik tersebut memudarkan keunggulan atau kemasyhuran diri.” Seorang yang iri hati tidak saja dengki atas kebaikan dalam diri orang lain - bakat, penampilan, harta milik, profesi atau popularitas - tetapi ia juga bergembira dan bahkan bersukacita atas kesulitan atau kemalangan yang dihadapi orang lain. Iri merupakan dosa yang keji karena melahirkan kebencian, gosip, pelecehan dan kedengkian terhadap sesama.
5. Kerakusan (Gula atau gullia)
Beelzebub (Gluttony)
KERAKUSAN adalah “hasrat yang berlebihan akan makanan dan minuman.” Kerakusan berbahaya bagi kesehatan mental maupun fisik, dan kerap kali menyembunyikan bahkan masalah rohani yang lebih dalam. Orang perlu melatih keutamaan penguasaan diri guna mencegah kerakusan. Juga, orang hendaknya ingat akan konsekuensi fisik atas penyalahgunaan makanan dan minuman; misalnya, minum berlebihan dapat menghantar orang pada kecanduan alkohol. Akhirnya, orang hendaknya senantiasa ingat akan mereka yang kurang beruntung dan yang menderita akibat kekurangan makanan dan minuman yang layak. Sama sekali tidak ada alasan untuk membuang-buang makanan, dan mereka yang melakukannya juga bersalah karena kerakusan - mengambil makanan sebanyak-banyaknya, lalu tidak memakannya habis, dan membuangnya secara percuma di sampah.
6. Kemarahan (ira)

Satan/Amon (Wrath)
KEMARAHAN adalah “hasrat yang berlebihan untuk membalas dendam.” (Patut dicatat bahwa “kemarahan yang salah” ini berbeda dari “kemarahan yang benar,” di mana orang marah karena ketidakadilan di dunia atau bahkan dalam situasi-situasi pribadi, cdan mencari cara untuk menanggulangi masalah serta memulihkan keadilan.) Kemarahan pertama-tama melanggar belas kasih sebab orang cenderung untuk bertindak dan berkata-kata sedemikian rupa, yang dapat melukai orang lain. Sebagai contoh, kata-kata yang dilontarkan dalam kemarahan, entah itu kata-kata kasar atau pernyataan yang menyakitkan mengenai orang lain, dapat menembus hingga ke lubuk hati orang. Kedua, kemarahan terkadang melanggar keadilan sebab orang bertindak di luar batas dalam menangani suatu masalah dan berusaha membalas dendam. dampak sebagai akibat kebiasaan buruk kemarahan, akan melahirkan : kejengkelan, kekacauan mental, suara bicara yang memekakkan telinga, kutuk, makian dan pertikaian. Agar mawas diri terhadap kemarahan, orang harus setia pada keutamaan keadilan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan; menguasai diri dalam menangani suatu masalah.
7. Kemalasan (acedia)

Belphegor (Sloth)
KEMALASAN adalah “kemurungan ketika berhadapan dengan hal-hal rohani”. Kemalasan yang dimaksud di sini bukan sekedar kemalasan, tetapi teristimewa kemalasan rohani. Dosa-dosa yang berkembang dari kebiasaan buruk kemalasan ini meliputi suam-suam kuku terhadap perintah-perintah Allah, menyimpang pada apa yang dilarang dan memperkerap kesempatan dosa, pengecut dan berputusasa akan keselamatan. Kemalasan adalah suatu penyakit kehendak yang mengakibatkan kita melalaikan kewajiban. Kemalasan dapat berupa kemalasan jasmani maupun kemalasan rohani. Kemalasan jasmani ketika ia mewujudnyatakan dirinya dalam bermalas-malasan, menunda-nunda, berpangku tangan, acuh tak acuh dan kejemuan. Kemalasan rohani apabila ia mewujudnyatakan dirinya dalam ketidakpedulian untuk memperbaiki karakternya, keengganan terhadap hal-hal rohani.ketujuh dosa poko tersebut adalah nyata, setiap umat manusia harus menyadari betapa rentan dirinya pada kebiasaan-kebiasaan buruk ini. namun demikian, dengan rahmat Allah, umat manusia takkan jauh dari keilahianNya. asal manusia senantiasa tak jauh dariNya.









0 komentar:
Post a Comment